Tridharma

Tridharma: Aliran Buddha sebagai hasil dari sinkretisme ketiga agama yang tersebar di Tiongkok (Buddha Mahayana, Konghucu dan Tao). Para rohaniawan agama-agama itu senantiasa bersaing sesama, tapi rakyat jelata campur upacaranya. Filsuf Buddhis Sengzhao (384-414) telah mengajar tentang identitas ajaran Buddha dan Tao. Sejak abad ke-6 terkadang ide Tiga ajaran (San Jiao) bertemu dalam sastra. Dan pada abad ke-16 seorang Lin Zhaoen (1517-1598) mendirikan sekte dalam agama tradisional Tionghoa, dinamai Sanyi (Tiga dalam Satu) atau Xiaism (Ajaran musim panas), di Putian, Propinsi Fujian (kini masih dipraktikkan di areal Xinghua, Fujian). Beliau menggabungkan moral Konghucu, meditasi Tao dan pencerahan Buddhis. Di Indonesia ajaran Tridharma menyebar secara bebas dari gerakan di Tiongkok oleh penulis Tionghoa-Indonesia Kwee Tek Hoau (1886-1951) yang pada Th 1930 mengorganizir Konferensi Tridharma di Surakarta dan antara Th 1932-1934 menerbitkan Majalah Moestika Dharma. Dalam aliran ini mengutamakan pemujaan kepada Roh (Bai Shen), yaitu Roh Suci (Shen Ming), Roh Langit (Tian), Roh Tanah (She), roh-roh arwah leluhur (Di), dll. Merayakan sejumlah festival, umpamanya Cheng Beng, festival leluhur pada tanggal 5 april. Kelenteng-kelentengnya dinamai secara resmi sejak Th 1979 sebagai Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) dengan struktur yang termasuk tiga tempat bagi tiga nabi (Buddha, Kong Hu Cu serta Lao Cu). /Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM/
■ Majelis Rohaniawan Tridharma Seluruh Indonesia (Matrisia) /Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM/
Kelenteng Sam Po Kong, Semarang (1724) (www.wikimedia.org)

Kelenteng Kim Tek Ie (Dharma Bhakti), Jakarta (1650, 1755) (www.wikimedia.org)

Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang (1746) (www.wikipedia.org)

Kelenteng Ban Hing Kiong, Manado (abad 18) (www.kelenteng.com)

Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong), Madura (www.kanal.web.id)

Kelenteng Kwan Tee Kiong, Yogyakarta (www.wikimapia.org)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar