Hindu lokal

Hindu lokal: Jajaran masyarakat Indonesia bawah didominasi Hindu di zaman kerajaan Hindu lalu telah mengalami kepercayaan asli berubah ke Hindu, ke tingkat yang lebih besar atau lebih kecil, menyebabkan berbagai sistem-sistem kepercayaan sinkretis. Hukum RI tentang enam agama saja juga menjadikan integrasi antara agama tradisional dengan Agama Hindu. Dalam beberapa kasus, sulit untuk mengatakan, ada Hindu lokal atau kepercayaan asli. (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
► Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) adalah organisasi terutama buat orang Dayak Hindu (suku-suku Ngaju, Lawangan, Katingan, Maanyan, Ot Danum dan Ot Siang) di Kalimantan Tengah; pada Th 40-50-an abad ke-20 orang Dayak Kaharingan (artinya Kehidupan) mempunyai propinsi sendiri KalTeng dengan gubernur pahlawan nasional RI Major Tjilik Riwut yang mendukung agama tradisional; pada 1950 Konggres Kaharingan pertama dibentuk organisasi dengan nama Serikat Kaharingan Dayak Indonesia (SKDI) dan pada 1972 didirikan Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan, tapi hanya pada 1980, setelah integrasi Agama Kaharingan dengan Agama Hindu, Pemerintah RI mengalihkan status agama ini dari kepercayaan ke status resmi sebagai bagian dari Hindu dan mendaftar organisasi keagamaan bernama MBAHK dengan pusat di Palangka Raya; menurutnya Kitab Suci adalah Weda dan Panaturan yang diterima oleh Raja Bunu dan para pendeta (Basir); nama Tuhan Tertinggi adalah Ranying Hatalla Langit atau Sang Hyang Widhi Wasa; persembahyangannya dengan cara Yadnya (korban) dan  berkumpul mingguan (Basarah) di rumah-rumah umum (Balai Basarah) untuk mendengar khotbah;
► Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (STAHN-TP) (stahntp.ac.id) adalah perguruan tinggi Hindu Kaharingan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, didirikan pada 2001, sedang perubahan status ke Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP);
► Hindu Tolotang berarti Hindu orang Selatan yang merupakan salah satu nama orang Bugis di Kab. Sidenzeng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan; pada 1980 agama tradisional ini bersama agama Dayak mendapat status agama resmi sebagai agama Hindu (sejarah Hindu situ mulai pada abad ke-14, zaman kerajaan Gowa dan Wajo); menurutnya Tuhan Yang Maha Esa adalah Dewata SeuwaE (Siwa) atau PatotoE (Yang Menentukan Takdir), istrinya Datu Palinge, yang pada zaman prasejarah telah turun di dunia sebagai Batara Guru, kemudian Tuhan menerunkan Wahyu (Kitab Suci yang Wiracarita La Galigo dan lain ditulis dalam Lontara) kepada manusia yang diterima oleh La Panaungi; Kepala suku Bugis La Patroi, Addatuang Sidenreng ke-7 yang mendirikan agama ini pada awal abad ke-17;
► Hindu Naurus adalah agama suku Manusela dan Nuaulu di Pulau Seram, Maluku; unsur-unsur Hindu serta sebutan diri sebagai orang Hindu dimasuki ke dalam kepercayaan asli penduduk Seram dari kerajaan Hindu Butuan di pulau Mindanao (kini Filipina), tata aliran Hindu Naurus mencakupi dewa-dewa dari wiracarita Ramayana, yakni Rama (Rabie) serta Hanuman (Hainuwele) dan naga-naga, ada kepercayaan terhadap Allahatala tertinggi pula (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)

Balai Basarah Tampung Penyang, Palangka Raya (www.panoramio.com)

Kumpulan Kaharingan di Balai Basarah,, Tumbang Malahoi  (www.selviagnesia.wordpress.com)

Mahasiswa/i Hindu Kaharingan (www.stahntp.ac.id)

Kaum Bugis Hindu Tolotang (www.kompasiana.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar