Sufisme (Tasawuf)

Sufisme (Tasawuf)Ini gerakan batin yang melanjutkan penerapan jahid/pertapa Islami awal, terutama melalui Sunni. Mereka memiliki kalam tersendiri (kerap paham panteistik – Wihdatul Wujud, semuanya adalah zat Allah) pembangunan batin, di mana Syariah adalah hanya tingkatan pertama dalam barisan syariah–tarekat–hakikat (pencerahan), serta hirarkis rohani yang sejajar dengan hirarkis lazim. Menonjol pemikir-pemikir Sufi: sarjana, al-Ghazali ("Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama") dan Ibnu Arabi (“Futuhat al-Makkiyyah”), penyair, al-Farid ("Kasidah Besar") serta Jalaluddin Rumi (“al-Matsnawi al-Maknawi”). Sebuah peran khusus dimainkan di tasawuf hubungan antara Guru (Syeikh/Mursyid) dan murid (darwis). Biara Sufi bagi kaum sadu bernama Zawiya, atau Khanqah/Rubath. Dibentuk 12 tarekat (jalan) Sufi utama, sekolah tasawuf dengan silsilah gurunya keturunan Nabi dan peziarahan sendiri (makam syeikh, dll). Di Indonesia guru-guru Sufi yang pertama adalah Walisongo (teristimewa Syeikh Sunan Gunung Jati, putera penguasa Mesir dari isteri Sunda, sultan Cirebon pertama) serta Syeikh Siti Jenar yang mengajarkan kesatuan antara manusia dengan Allah dan berkonflik dengan mereka di Jawa masa abad ke-15–16-an (tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah dan Syadziliyah), penyair Melayu dari Barus di Sumatera, karya-karyanya pernah dibakar lantaran berisi paham Wihdatul Wujud, Hamzah Fansuri berbarengan muridnya Syamsuddin Sumatrani di Aceh, dan Yusuf Makassari di Sulawesi dan Banten masa abad ke-16–17-an (tarekat Qodiriyah dan Khalwatiyah). Di samping mereka di Indonesia juga merembet tarekat-tarekat lain.
Tarekat Qodiriyah (www.tarekatqodiriyah.wordpress.com) adalah salah satu persaudaraan Sufi tertua yang didirikan oleh seorang Parsi, Abdul Qadir Jaelani (1077–1166), wali Hanbali; menerapkan dzikir zahr (keras) (termasuk dgn berlingkar-lingkar), terfokus pada bukan kalam, tapi moral, pusatnya sedunia di Baghdad; di Indonesia syeikh pertama adalah penyair Melayu dari Barus di Sumatera Utara, karya-karyanya pernah dibakar lantaran berisi paham Wihdatul Wujud, Hamzah Fansuri (w. sekitar 1590) yang mengembara di Arabia, Bagdad, India dan Kudus (Jawa), serta muridnya Syamsuddin Sumatrani di berdakwah di Aceh; pada abad ke-19 mengajar Ahmad Khatib Jawi (w.1878); pusat di ds. Kajen (Margoyoso, Pati, Jawa Tengah), Rubath Qodiriyah ada di Jakarta Timur;
Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) (www.tqnnews.com www.tqnppsuryalaya.blogspot.com www.metafisika-center.org) adalah tarekat Sufi sbg cabang dari tarekat utama Qodiriyah, pendiri syeikh Qodiriyah di Mekkah asal Kalimantan Barat, Ahmad Khatib as-Sambas (1802–1878) yang menggabungkan dzikir bersuara dan diam; muridnya, Abd al-Karim Banten (lh.1840) dari ds. Lampuyang (Tanara, Jawa Barat) menyebar TQN di Indonesia, dibentuk TQN Center di Masjid al-Mubarak (Rawamangun Jakarta), dan Metafisika Center dan Pondok Pesantren – Daru Ulil Albab di Kelutan (Ngronggot, Ngajuk, Jawa Timur), di luar Nusantara TQN juga berada di Asia Tenggara;
Tarekat Qodiriyah Hanafiah (TQH) (www.majelisrabbani.org Facebook) cabang baru dari Qodiriyah yang didirikan th 1995 di kota Sani (Solok, Sumatera Barat) oleh Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani (lh.1976) dari Padang (Sumatera), th 2002 terdaftar Tasawuf Islamic Centre Indonesia (TICI) dan Majelis Rabbani Indonesia (MRI), berpusat di Jakarta dgn cabang di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Singapura dan Malaysia;
Tarekat Syadziliyah adalah salah satu persaudaraan Sufi tertua yang didirikan oleh Syekh Abdul Hasan Ali asy-Syadzili (1196–1258) dari Maroko, mengutamakan pergelutan dgn nafsu cara khalwat (tirakatan) serta puasa reguler selalu siang malam, menggabungkan dzikir zahr dan dzikir khafi (lembut); guru pertama di Nusantara merupakan Syeikh Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) (1448–1568) dari Walisongo, keturunan Nabi dan juga penguasa Mesir dan isteri puteri Sunda, sultan Cirebon pertama, selain Syadziliyah juga syeikh tarekat Kubrawiyah, wilayah istimewa tarekat ini di Indonesia ialah Kudus di Jawa Timur;
■ Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah (TNK) (www.baitulamin.org www.naqsyabandie.wordpress.com) adalah persaudaraan Sufi, ca-bang dari tarekat Naqsyabandiyah yang terbesar, pendirinya ialah Baha-ud-Din Naqshband Bukhari (1318–1389), Beliau menolak kaidah Sufi yang dzikir zahr, musik dan tari dan menjurus pada dzikir khafi dgn kaidah pernapasan, di Indonesia Naqsyabandiyah masa abad ke-16–17-an disebar oleh sementara Walisingo dan Syeikh Yusuf Makassari (sebelum pindahannya ke tarekat Khalwatiyah); cabang TNK didirikan oleh Syeikh Khalid al-Muladdid al-Baghdadi alias Kurdi (w.1826) di Mekkah dan dirembet di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika; salah satu muridnya, Syeikh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi (w.1844) di Singapura asal Simabur (Sumatera Barat) memprakarsai dakwah di Nusantara sesuai dgn syeikh Abdullah Barzinjani yang membawa ajaran ke Riau, kini tempat-tempat TNK antarnya: Surau Baitul Amin di Bojongsari, Depok, Jawa Barat dan Rubath Mubarak Qashrul ‘Arifin Pusat di Ngaglik, Sleman, Yogyakarta;
Tarekat Naqsyabandiyah Mazhariyah/Mudzhariyah (www.naqsmudzhariyah.blogspot.com www.naqsyabandiyah-gersempal.org www.naqsabandi-gersempal.blogspot.com) adalah cabang dari Naqsyabandiyah yang didirikan di Delhi, India abad ke-19 oleh Syeikh Mirza Mazhar Jan-i Janan (Mudzhar Khan) yang menolak paham Wihdatul Wujud, kemudian di Madinah menggurui Syeikh Maulana Muhammad Mudzhar al-Ahmadi (w.1884); selaku murid tarekat ini pernah menjadi sultan Riau serta sultan Pontianak di Indonesia, Syeikh Abdallah az-Zawawi dari Mekkah menjadi mufti Pontianak, dan putranya, Syeikh Yusuf Ali Abdallah az-Zawawi sbg mufti Negara Bagian Trengganu di Malaysia, berkat Muhammad Syaleh az-Zawawi (Syeikh Abdul Adzim dari Bangkalan Madura, w.1916) dari sejak akhir abad ke-19 sampai kini kawasan istimewa terekat di Indonesia ialah Madura dan Jawa Timur (Malang); di ds. Gersempal (Omben, Sampang, Madura) berpusat sekelompok  Naqsyabandiyah Gersempal, masjidnya terutama ialah Masjid Agung di Sampang, susunan organisasinya termasuk Silaturrahim Ikhwan dan Akhwat Thoriqoh Naqsyabandiyah (Sitqon), kini tarekat berada pula di Surabaya, Jakarta dan Kalimantan;
Tarekat Naqsyabandiyah Hakkani (www.naqsybandi.com), disebut pula Naqsyabandiyah Nazimiyah, adalah cabang baru dari tarekat Naqsyabandiyah, pendirinya, Syeikh Nazim Adil al-Hakkani (lh. 1922), seorang Turki dari Larnaka (Siprus), syeikh Naqsyabandiyah, Mawlewi dan tarekat lain, yang keturunan penyair dan pendiri tarekat Mawlewi (Jalaliyah), Jalaluddin Rumi, dari praktiknya Naqsyabandiyah Hakkani meminjam tari berputar Sema serta musik; sejak 1991 mulai misi di Amerika Utara (Hakkani Foundation), penyebar di Indonesia sejak 1997 syeikh dari Lebanon, Muhammad Hisyam Kabbani al-Rabbani, th 2000 terdaftar Yayasan Hakkani Indonesia dgn pusat di Jakarta pimpinan Presiden Direktur dan juga Haqqani Institute Indonesia, zawiyah ada pula di Jawa, Sumatera, Bali, Papua;
Tarekat Khalwatiyah (Khalwatiyah Yusuf) (www. profilejamiyahkhalwatiyah.blogspot.com) adalah salah satu persau-daraan Sufi tertua, didirikan oleh Zahir ad-Din Umar al-Khalwati (w.1397), syeikh Parsi dari Herat (kini di Afghanistan), tarekat muncul di wilayah Turki Syiah di Persia, mengutamakan khalwat dan tapa, tarekat Sunni tapi dgn unsur Syiah, teristimewa disebar di Mesir; guru pertama di Indonesia ialah Syeikh Yusuf Makassari (Yusuf al-Khalwati Goa, 1626–1699) dari keluarga sultan Gowa di Sulawesi, th 1644 pergi ke Arabia dan menjadi pengikut tarekat Naqsyabandiyah, pulang ke kota Banten, selanjutnya di Damaskus ditahbiskan sbg syeikh Khalwatiyah, di Sulawesi Selatan antara orang Bugis berkarya muridnya Karaeng Abd al-Jalil, kini wadahnya yang utama didaftarkan th 2006 ialah "Jamiyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy" dipimpin oleh Mursyid ke-44, Dewan-dewan Mursyid, Syurah dan Pembina, aliran ini menerapkan dzikir khafi dan terkait erat pada bangsawan dan pemerintah kedaerahan;
Tarekat Khalwatiyah Samman (di Facebook) alias Sammaniyah adalah cabang lain dari persaudaraan Sufi Khalwatiyah, didirikan di Madinah oleh Muhammad ibn Abd al-Karim al-Samman (1719–1775), diakui paham Wihdatul Wujud dan menerapkan baik dzikir khafi maupun dzikir zahr; di Nusantara awalnya dirembet di Aceh oleh murid pendiri, Abd al-Samad bin Abd Allah al-Palimbani (w.1800), th 1820-an muncul di Sulawesi Selatan (Makassar dan Maros) dgn guru Abdullah al-Munir, sebangsawan Bugis dari Sumbawa, pusatnya di Leppakomai (kec. Maros);
Tarekat Syattariyah (www.pesambanganjati.blogspot.com) adalah persaudaraan Sufi yang didirikan oleh Syeikh Abdallah al-Syattar (w.1428) di Persia dan India (sebutan tarekat ini lain – Bistamiyah dari nama Abu Yazid Bistami) sbg salah satu cabang-pewaris dari terekat Suhrawardiyah oleh Sheikh Shahab al-Din Abu Hafs Umar Suhrawardi (1145–1234) berbangsa Kurdi, murid al-Ghazali, yang menerapkan dzikir bersuara serta diam tapi melarang tari; Syattariyah banyak bekerja di India, di antara guru yang pertama di Indonesia ialah seorang bangsa Melayu yang belajar di Madinah, Syeikh Abd ul-Rauf Singkil (1615–1693) yang berdakwah di Aceh, muridnya Burhan al-Din berkarya di Sumatera Barat, dan Abdul Muhyi dari Pamijahan, Jawa Barat (abad ke-17–18-an); pusatnya yang terbesar ialah Keraton Pesambangan Jati Cirebon sampai kini;
Tarekat Tijaniyah (www.attijaniyahwalhamdulillah.weebly.com www.zawiyah-tarbiyah-at-tijaniyah-jakarta.com) adalah persaudara-an neo-Sufi yang didirikan di Fez, Maroko oleh Ahmad at-Tijani (1735–1815) dari bangsa Berber Magrib, Beliau mengaku diri sbg syeikh tanpa silsilah mursyid tapi langsung dari Roh Nabi, dan pula sbg khatam segala wali dan Kutub yang maksum dari dosa (ismat); menerapkan dzikir khafi tanpa tapa, paling penting hari ialah Maulid Nabi, dilarang bergabung dgn tarekat lain; di abad ke-19 mereka membentuk Negara mandiri di Niger dan Senegal; salah satu pemimpin pesantren Buntet di ds. Mertapada Kulon (Cirebon), KH Anas antara th 1924–1927 mempelajari jalan ini di Arabia, selain itu th 1928 ke Cianjur (Jawa Barat) tiba mufti Arab dari Madinah, Syeikh Ali bin Abdullah at-Thayyib al-Azhari dan berdakwah di seluruh Jawa, kini Keluarga Besar Thorikoh At Tijaniyah mewadahi sejumlah zawiyah di Jawa dgn pusat berwibawa di pesantren Buntet dan Garut (Jawa Barat);
Tarekat Idrisiyyah, atau Sanusiyyah (www.idrisiyyah.or.id) (di Malaysia dikenal sbg Ahmadiyah-Idrisiyah), adalah persaudaraan neo-Sufi berasal dari tarekat Khidhiriyyah dan didirikan oleh seorang suku Berber Magrib, Syeikh Muhammad bin Ali as-Sanusi (1787–1859) di Mekkah th 1837 dan th 1843 dipindah ke Libia (berpusat di Kufra), ajaran mengarah ke pada gerakan Wahabi tapi tak dilarang kultus para wali, menerapkan dzikir khafi tanpa tari dan ekstase; sbg kelompok anti-penjajahan mengepalai perjuangan kontra Prancis dan Italia di Magrib dan Afrika Tengah untuk negara agama, th 1951 syeikhnya pernah menjadi raja Libia, Idris ke-1; di Indonesia tarekat dibawa oleh Syeikh Abdul Fattah th 1932, murid dari Syeikh Ahmad Syarif as-Sanusi (1875–1933) di Mekkah, terdaftar th 2012 dgn pusat di Jatihurip (kec. Cisayong, kab. Tasikmalaya, Jawa Barat);
Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah an Nahdiyah (JATMAN) adalah persekutuan para guru lintas tarekat Sufi se-Indonesia, th 1957 di Tegalrejo, Magelang Jawa Tengah didirikan Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah, JATMAN di 1976 memisahkan diri dari persekutuan pertama dan th 1979 di Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-26 di Semarang sbg wadah mandiri pimpinan Idaroh Aliyah dan mewakili 45 tarekat diakui NU sbg asli;
Dewan Ulama Tarekat Indonesia (DUTI) (www. dewanulamathariqah.org) adalah persekutuan para guru lintas tarekat Sufi se-Indonesia yang didirikan th 2016 di Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani dari Qadiriyah Hanafiah di Koto Sani (Solok, Sumatera Barat) terutama oleh para tokoh dari Sumatera Barat; cenderung pada ajaran anti-Wahabi, Dewan Mustasyar bertempat di Tangerang, Banten.

Sumber: Popov, Igor. Buku rujukan semua aliran dan perkumpulan agama di Indonesia. Singaraja, 2017.

Makam Sunan Gresik, Gapura Wetan, Gresik Jawa Tengah (www.jawatimuran.net)

Para tokoh tarekat Qodiriyah Hanafiah (www.majelisrabbani.org)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar